Showing posts with label Peran umat beragama dalam mewujudkan masyarakat beradab dan sejahtera. Show all posts
Showing posts with label Peran umat beragama dalam mewujudkan masyarakat beradab dan sejahtera. Show all posts

Tuesday, November 25, 2014

Peran Umat Beragama dalam Mewujudkan Masyarakat Beradab dan Sejahtera




Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Pluralitas bangsa ini mewujud dalam keberagaman etnis, tradisi, adat istiadat, seni, budaya, dan agama. Clifford Geertz, seorang antropolog kenamaan dari Amerika Serikat, dalam Indonesian  Cultures and Communities, dengan baik melukiskan pluralitas bangsa Indonesia demikian,

“Terdapat lebih dari 300 kelompok etnis yang berbeda-beda di Indonesia, masing-masing dengan identitas budayanya sendiri-sendiri, dan lebih dari 250 bahasa daerah dipakai dan hampir semua agama-agama penting di dunia diwakili, selain agama-agama asli yang banyak jumlahnya.”

Meskipun plural, bangsa ini direkatkan dalam satu kesatuan kebangsaan akhibat dari pengalaman sejarah yang sama: penjajahan yang getir dan pahit. Hal ini secara simbolik terangkum dalam “Bhineka Tunggal Ika”, yang mengakui perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan.

Kesatuan kebangsaan ini pertama kali direkatkan melalui deklarasi Sumpah Pemuda tahun 1928 dengan ikrar kesatuan: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia. Dan Pancasila merupakan kalimatun sawa sebagai dasar yang merangkum semua pluralitas agama dan sosial.

Agama, seperti yang dikemukakan di atas, merupakan salah satu pluralitas bangsa Indonesia. Karena itu peran umat beragama dalam mewujudkan masyarakat madani sangat penting. Ada enam agama yang diakui secara resmi oleh negara Indonesia: Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Semua umat dari masing-masing agama telah mengakui bahwa Pancasila merupakan platform bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian dalam perjalanan sejarah bangsa ini, bukan berarti tanpa gesekan mengenai hubungan antar umat beragama tersebut. Terutama hubungan Islam dan Kristen, beberapa fakta menunjukkan bahwa dua umat beragama ini seringkali mengalami keretakan. Ismatu Ropi dalam karyanya Fragile relation: Muslim and Christians in Modern Indonesia mengemukakan  betapa rentannya hubungan antara kedua umat beragama ini. Kasus-kasus seperti Situbondo (Jawa Timur), Ketapang (Jakarta) dimana gereja dibakar oleh umat islam, Kupang (NTT) dimana masjid dibakar oleh umat Kristiani. Belum lagi kasus Maluku dan Poso yang hingga saat ini belum dapat diselesaikan dengan baik. Hubungan yang tidak harmonis antara umat beragama akan mengganggu usaha bangsa ini dalam meretas menuju masyarakat yang beradab dan sejahtera.

Berikut ini adalah beberapa peran yang harus dilakukan oleh umat bergama dalam mewujudkan masyarakat madani.

  1. Menumbuhkan sikap saling pengertian antara sesama umat beragamaPeran ini bisa dilakukan melalui dialog intensif. Mengutip perkataan Hans Kung yang tentang keharusan berdialog:
    “Tidak ada perdamaian di antara bangsa-bangsa tanpa adanya dialog antaragama; tidak ada perdamaian di antara agama-agama tanpa adanya dialog antar umat beragama; tidak ada dialog antar umat beragama tanpa ada investasi dasar (fondasi) agama-agama.”  
  2. Melakukan studi-studi agama dengan tujuan menciptakan kerukunan umat beragama
  3. Melakukan usaha-usaha penumbuhan sikap-sikap demokratis, pluralis, dan toleran kepada umat beragama sejak dini melalui pendidikanIslam mewajibkan umatnya untuk berdakwah, akan tetapi dakwah tersebut harus disampaikan dengan cara yang baik dan manusiawi. Keyakinan yang berbeda harus dihormati. Islam mengajarkan umatnya sikap toleransi karena tidak ada paksaan untuk menerima Islam. Islam juga tidak membenarkan umatnya menghina umat agama lain. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Q.S. Al-An’aam:108:



    وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ



    Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah.” 


    وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لآمَنَ مَن فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُواْ مُؤْمِنِينَ

    Artinya: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”(Q.S. Yunus:99)

    Selain dalam Al-Qur’an, Perintah bertoleransi juga terdapat dalam hadits Rasul. Al-Bukhari dalam Kitab Iman, bab Agama itu Mudah, menyebutkan: 



    حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى. 

    Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdillah, telah menceritakan kepada saya Abi telah menceritakan kepada saya Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu 'Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah saw. "Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?" maka beliau bersabda: "Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran)"

    Berdasarkan hadis di atas dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yang toleran.
  4. Mengerahkan energi bersama untuk mewujudkan cita-cita bersama membangun masyarakat madani



Referensi:
  1. Nurdin, Ali, dkk. 2008. Pendidikan Agama Islam. Edisi 1. Cetakan Ketujuh. Jakarta: Universitas Terbuka.
  2. http://msibki3.blogspot.com/2013/04/hadis-hadis-tentang-toleransi.html