Showing posts with label Universitas Terbuka. Show all posts
Showing posts with label Universitas Terbuka. Show all posts

Friday, July 6, 2018

Penundaan Pengumuman Hasil Ujian sebagai Momen bagi UT untuk Berbenah


Penundaan Pengumuman Hasil Ujian sebagai Momen bagi UT untuk Berbenah




Hari ini, 6 Juli 2018, seharusnya menjadi hari yang mendebarkan bagi mahasiswa UT, utamanya jurusan NON-PENDAS. Pasalnya, berdasarkan kalender akademik, hari ini adalah hari di mana hasil ujian periode 2018.1 akan diumumkan. Untuk melihat hasil ujian, banyak mahasiswa yang rela bergadang tengah malam untuk menghindari server jebol yang sudah lumrah terjadi di hari pengumuman. Oleh karena itu, para mahasiswa berlomba-lomba mencari waktu terbaik untuk mengetahui hasil ujian mereka secepatnya, apakah memuaskan atau justru mengecewakan.

Namun, usaha itu harus berakhir dengan kekecewaan. Karena hingga tenggah hari, belum ada mahasiswa yang berhasil mengakses nilai ujian. Dan ternyata diumumkan di website UT bahwa pengumuman ujian ditunda hingga 11 Juli (untuk alasan yang tidak diketahui). Hal ini pastinya membuat mahasiswa geram bukan kepalang. Apa yang mereka tunggu lama tidak kunjung datang dan malah menjadi penantian yang semakin panjang. Bahkan, karena saking tidak terimanya, ada seorang mahasiswa yang memasang tagar #2019gantirektorUT dan yang lainnya marah-marah tak karuan di kolom komentar di grup Facebook ofisial Universitas Terbuka, dengan menyatakan bahwa UT tidak profesional, tidak disiplin, manajemennya buruk, layanannya tidak memuaskan, dan sebagainya.

Membaca komen-komen tak mengenakkan tersebut, saya pribadi tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Sebagai mahasiswa UT, jujur saja, saya juga merasa kecewa. Tetapi saya memilih untuk tidak memperkeruh suasana dengan ikut mencaci institusi yang saya cintai dan banggakan. Karena bagaimana pun ini adalah kampus saya, di mana saya menimba ilmu di sini dan mendapatkan banyak manfaat darinya. Akan tetapi, hal ini bukan berarti pula bahwa saya menerima penundaan mendadak ini dengan lapang dada begitu saja. Sebagai mahasiswa, saya juga turut memiliki tanggung jawab untuk menjaga reputasi dan kualitas kampus saya untuk tetap berjalan sebagaimana mestinya, baik ke dalam (mahasiswa) maupun ke luar (masyarakat).  

Oleh karenanya, pada kesempatan ini, ijinkan saya selaku mahasiswa memberikan masukan sebagai bahan pembenahan UT untuk kedepannya. 
1. Publikasi nilai tepat waktu
Tidak diragukan lagi bahwa setiap mahasiswa UT sangat menunggu-nunggu nilai ujian keluar. Setelah melewati ujian semester yang berat dan menguras pikiran, mahasiswa berharap dapat segera melihat hasil belajar mereka. Bagi yang sudah bekerja dan berkeluarga, mempelajari buku-buku kuliah dan mengerjakan tugas tuton bukanlah tugas mudah. Mereka harus membagi waktu untuk belajar, bekerja, dan keluarga. Sehingga wajar jika mereka ingin mengetahui kerja keras mereka secepatnya. 
Sebagai institusi yang menaungi banyak mahasiswa berstatus pekerja dan kepala rumah tangga, UT seharusnya menyadari hal ini dengan sangat baik. Akan menjadi bijaksana rasanya apabila UT tidak menunda-nunda lagi pengumuman hasil ujian, mengingat sudah ada jarak yang cukup lama antara ujian dan pengumuman. 
Dan menyinggung masalah nilai ini, percaya atau tidak, banyak mahasiswa yang mencoba mengecek nilai sebelum tanggalnya, dengan harapan nilai mereka telah tersedia. Lalu, bisa dibayangkan betapa sedihnya mereka jika pengumuman ternyata ditunda. Hemat saya adalah, kalau UT memang tidak bisa mempublikasikan seluruh nilai mata kuliah secara bersamaan karena belum terkumpul semua, lebih baik mengunggah nilai yang telah ada saja, ketimbang tidak ada publikasi nilai sama sekali.  
2. Disiplin waktu
UT adalah institusi perguruan tinggi yang telah mendapatkan pengakuan baik nasional maupun internasional. Label “negeri” yang tersemat mengukuhkan UT sebagai institusi besar dan sudah seyogyanya menjadi simbol kebanggaan bagi semua mahasiswa dan pegawainya. Jadi, jangan sampai kebanggaan dan kepercayaan mahasiswa hilang dan reputasi UT sebagai PTN berstandar dunia menurun gara-gara tidak disiplin waktu. Jangan sampai di lingkungan akademis mahasiswa diminta tepat waktu dalam melakukan registrasi, membayar SPP, mengikuti tuton, dll., tetapi institusi sendiri tidak disiplin dalam menjalankan kewajibannya kepada mahasiswa, dalam hal ini, mengumumkan nilai. 
Bukankah UT butuh waktu untuk mendapatkan kepercayaan mahasiswa, mengubah persepsi masyarakat agar menerima UT sebagai “kampus kaum muda” yang semula dianggap “kampus orang tua”? Jangan sampai pencapaian besar yang telah diraih ini berhenti, karena banyak mahasiswa tidak puas dengan layanan UT sehingga tidak merekomendasi UT sebagai tempat belajar yang baik. Dengan demikian, UT perlu berbenah dengan memberikan pelayanan terbaik kepada para mahasiswa, karena mereka, disadari atau tidak, adalah agen yang akan menyebarluaskan UT di masyarakat. 
3. Perbaikan manajemen 
Secara tidak langsung, penundaan pengumuman ini menunjukkan adanya masalah manajemen serius di lingkungan intern UT, khususnya di departemen atau divisi nilai. Mengingat penundaan ini tidak terjadi kali ini saja dan, yang lebih memprihatinkan, pengumumannya dilakukan di hari H-nya. Hal ini seperti menyiratkan bahwa waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan publikasi nilai mahasiswa tidak diestimasikan dengan tepat. Sehingga baru diumumkan pada hari H, setelah diketahui data belum terinput semuanya.
Selain penundaan pengumuman, terdapat juga masalah lain yaitu server error. Masalah ini sebetulnya bukan masalah baru sebab sering kali terjadi ketika akses ke situs-situs UT sedang tinggi, seperti saat pengumuman nilai, registrasi mata kuliah, dan order buku TBO. Tentunya, masalah server ini membuat tidak nyaman dan dapat menyebabkan mahasiswa tidak bisa melakukan registrasi untuk semester berikutnya dan tidak bisa memesan BMP untuk belajar. Sebagai tambahan untuk TBO, sejumlah mahasiswa menemukan nomor billing tidak valid ketika hendak dibayar di bank dan kontak TBO tidak bisa dihubungi (perlu ditelusuri lebih lanjut).
Masalah selanjutnya terkait respon Hallo UT dan tutor tuton. Berdasarkan pengalaman pribadi, tiket pertanyaan yang diajukan ke Hallo UT bisa direspon hingga 3 hari berikutnya, meski prioritas pesan berstatus “high”. Dan SMS yang dikirim bisa tidak dibalas dan telpon tidak dijawab. Sementara tutor tuton banyak yang tidak aktif saat tuton berjalan. Seolah hanya memberikan instruksi dan tugas, tanpa bersedia menanggapi pertanyaan atau diskusi mahasiswa yang mengalami kesulitan dan tidak memperlihatkan nilai yang diperoleh mahasiswa atas tugas-tugas yang mereka kumpulkan.
Melihat masalah-masalah di atas, rasanya perlu dilakukan perbaikan manajemen secara mendalam di lingkungan intern UT. Perbaikan dapat dimulai dengan mengevaluasi departemen terkait serta meningkatkan koordinasi dengan seluruh tutor, UPBJJ, dan badan usaha yang bersangkutan. Yang tak kalah penting di sini adalah mengumumkan penundaan hasil ujian beberapa hari sebelum hari H (jika memang terpaksa), supaya para mahasiswa tidak merasa kecewa berat.

Tulisan ini saya tulis sebagai bentuk kepedulian saya terhadap UT, yang sebentar lagi akan saya tinggalkan. :)

Friday, January 19, 2018

Contoh Karil Sastra Inggris Universitas Terbuka


Contoh Karil Sastra Inggris Universitas Terbuka


 
Karil atau karya ilmiah merupakan prasyarat yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa Universitas Terbuka untuk mendapatkan kelulusannya. Karil ini disyaratkan sebagai upaya universitas melatih keterampilan menulis akademis mahasiswa. Karil ini biasanya diambil bersamaan dengan TAP di Semester 7. Namun, ada pula yang mengambilnya di semester berikutnya karena belum memenuhi persyaratannya ataupun karena alasan-alasan tertentu. Untuk persyaratan registrasi TAP ini, silakan baca Pendaftaran Tugas Akhir Program (TAP).   
Berbicara lebih lanjut mengenai Karil, mahasiswa dikatakan lulus apabila dinyatakan "lolos plagiasi" dalam website resmi karil (http://karil.ut.ac.id). Adapun untuk cara aktivasi akun dan unggah karil di website ini, silakan download Panduan Karil. 
Kemudian hal-hal lain yang perlu diketahui dan diperhatikan seputar Karil ini antara lain:
a) mahasiswa yang akan mengambil Karil harus terjaring dalam daftar peserta TAP yang diterbitkan oleh UPBJJ-UT,  
b) mahasiswa kemudian akan diundang oleh UPBJJ-UT untuk mengikuti acara “persamaan persepsi”,
c) mahasiswa akan dibimbing oleh dosen dari universitas lain dalam penulisan Karilnya,
d) bimbingan tersebut akan berlangsung selama 8 minggu (1x bimbingan/ minggu),
e) panjang Karil bervariasi di setiap jurusan (7 – 12 halaman untuk FEKON, FHISIP, FMIPA; 10 – 15 halaman untuk mahasiswa PPs; dan maks. 30 halaman untuk FKIP),
f) pedoman penulisan sitasi dan daftar pustaka yang dipakai adalah APA style (American Psychological Association),
g) nilai Karil akan masuk kedalam nilai TAP. 

Setelah mengulas perihal Karil, berikut saya lampirkan contoh Karil Sastra Inggris yang saya tulis semester kemarin (Semester 7) dan telah dinyatakan lolos. 

Friday, October 27, 2017

Menargetkan IPK Cum Laude di Universitas Terbuka


Menargetkan IPK Cum Laude 
di Universitas Terbuka


Saya sering ditanya oleh teman-teman tentang bagaimana cara untuk mendapatkan IPK 3 atau lebih setiap semester. Banyak yang meminta “pencerahan” agar nilai mereka bisa membaik, menjadi tiga atau lebih atau bahkan cum laude. Sebenarnya, saya sudah pernah menuliskan kiat-kiatnya di sini. Tapi, mungkin karena bentuknya yang [terlalu] simpel (PPT), banyak yang kurang puas. Dan akhirnya saya pun tergerak untuk menuliskannya dalam bentuk narasi untuk memuaskan rasa penasaran teman-teman sekalian. 
Namun, sebelum saya bernarasi, ada baiknya jika saya “pamer” sedikit nilai yang saya dapat selama mengarungi enam semester terakhir. Tujuannya tak lain adalah untuk memantik semangat teman-teman semua untuk bersemangat membaca dan bersemangat belajar setelahnya! :D 
Berikut perolehan nilai saya selama delapan semester ini:

Usai melihat daftar nilai di atas, bagaimana respon teman-teman semua? Saya yakin, kebanyakan dari kalian ingin memilikinya, khususnya yang IPK-nya masih rendah. Jika ada niat dan tekad dalam hati untuk memperbaiki nilai, saya bersedia membantu teman-teman semua. Jujur saja, saya kadang miris lihat nilai sebagian dari temen-temen kita yang grade-nya kebanyakan C, D, dan E. Jarang sekali dapat A dan B. Dan pernah suatu ketika dapat kiriman screenshot nilai dari salah seorang mahasiswa yang share cerita tentang IPK-nya yang hanya 2 koma di akhir perkuliahannya. Bisa dibayangkan komposisi grade-nya seperti apa. 
Sebenarnya mencari IPK cum laude di UT itu gampang-gampang susah. Kenapa saya bilang demikian? Coba sekali-kali main ke universitas lain, khususnya universitas negeri. Tanya ke mahasiswa di sana mengenai tugas-tugasnya, saya yakin tugas kuliah mereka jauh lebih berat daripada kita. Mungkin kita akan berkilah, “kan mereka mahasiswa reguler yang meluangkan semua waktunya untuk belajar, sementara kita harus kerja, bantu orang tua, mengurus anak, dan bla...bla...bla...”. 
Well, that’s the point. Keluh kesah kitalah yang menjadikan semuanya tampak berat dan bahkan mustahil untuk dicapai. Kita memang berbeda kalau dilihat dari segi waktu yang dialokasikan dan cara yang digunakan untuk menempuh studi. Mereka belajar secara full time, sedangkan kita hanya part time. Mereka mendapatkan kuliah dari dosen secara face-to-face, sedangkan kita hanya long distance. Mereka tak perlu bekerja dan memikirkan biaya, sementara kita harus melakukannya dan bahkan harus menanggung beban keluarga bagi yang sudah berumah tangga. Perbedaan yang sangat kontras inilah yang kerap “dijadikan” sebagai batu sandungan untuk memperoleh IPK bagus sekaligus sebagai alasan untuk terus membenarkannya. 
Hal pertama yang perlu kita ubah di sini adalah paradigma. Ada sebuah pepatah berbunyi, “Everything has its own cost”. “Semua ada harganya!” Pepatah ini, disadari atau tidak, berlaku secara universal terhadap segala sesuatu di muka bumi ini. Maksudnya yaitu jika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus berusaha. Sama halnya jika kita menginginkan nilai atau IPK yang bagus, maka kita harus mengusahakannya. Usaha kita inilah yang kemudian akan menuntun kita kepada apa yang kita hendaki. 
Baiklah tanpa perlu berpanjang lebar lagi, inilah kiat-kiat dari saya yang teman-teman dapat coba terapkan untuk memperbaiki nilai atau IPK. 
1. Tentukan target setelah kuliah di UT
Kiat ini sangat saya sarankan bagi calon mahasiswa UT. Namun, yang sudah berstatus sebagai mahasiswa aktif juga dapat menggunakan kiat ini.

Target itu ibarat tempat yang hendak dituju dalam sebuah perjalanan. Apabila kita tidak memiliki tujuan, maka sia-sialah perjalanan kita. Karena bagaimanapun perjalanan harus ada akhirnya. Jadi, sebelum kita melangkahkan kaki, kita harus memiliki tujuan yang jelas. Supaya kita tidak terbawa arus begitu saja. 

Hal ini sama dengan kuliah kita di UT. Apabila kita tidak pasang target, maka perjalanan kita selama empat tahun di UT akan berakhir tanpa guna. Kita hanya akan ikut-ikut, terpengaruh dengan kanan-kiri, dan sesuka hati. Dan pada akhirnya kuliah kita tidak berarti apa-apa: tidak bermanfaat ilmunya, tidak membawa perbaikan pada karir dan kehidupan, tidak beguna bagi sesama, dan seterusnya. Jangan sampai hal ini terjadi!

Target yang saya maksud di sini bisa berupa:
a. Mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di masa mendatang, 
b. Meningkatkan karir di tempat kerja, 
c. Memperoleh beasiswa (penuh) S2, 
d. Dan semacamnya.

2. Bersemangat untuk belajar
Setelah menentukan tujuan, tugas selanjutnya adalah menentukan apa yang akan digunakan untuk mencapai ke sana. Sarana menjadi faktor yang sangat penting dalam mencapai sebuah tujuan. Tanpa ada sarana yang memadai, tujuan hanyalah angan belaka.

Demikian pula dengan target yang telah kita tentukan di UT. Target tidak akan tercapai jika kita tidak berusaha keras mencapainya. Usaha satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah belajar. Belajar menjadi sarana utama untuk mencapai target-target kita setelah lulus nanti. Maka, kita perlu menyusun study plan dengan baik untuk maksud tersebut.

Sebagaimana yang saya amati, kendala yang terbesar yang dihadapi mahasiswa UT dalam hal belajar adalah rasa malas, rasa lelah, dan manajemen waktu. Bisa dipahami bahwa kuliah sambil bekerja bukanlah hal yang mudah. Benar-benar perlu “semangat gigi tiga” untuk menjalaninya. 

Untuk melawan rasa malas dan rasa lelah yang bergelayut, niatkanlah belajar kita dengan menuntut ilmu, ikhlas lillahi ta’ala. Dalam Islam, orang yang menuntut ilmu banyak sekali keutamaannya. Salah satunya yakni diperolehnya pahala yang senantiasa mengalir sebab diamalkannya ilmu tersebut (HR. Muslim no.1631). Selain itu, anggaplah belajar tersebut sebagai bentuk dari cara mensyukuri akal sehat yang masih dianugerahkan Allah kepada kita.

Baca: Keutamaan Orang yang Menuntut Ilmu

3. Susun strategi belajar
Apabila motivasi untuk belajar telah didapat, selanjutnya strategi belajar perlu dirumuskan. Pasalnya, strategi juga berpengaruh besar dalam sebuah kesuksesan. Dalam perang, jumlah pasukan dapat dikalahkan dengan strategi. Buktinya dapat dilihat pada Pertempuran Myeongnyang yang terjadi di Korea pada tahun 1597, di mana 12 kapal mampu mengalahkan 120-330 kapal. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah strategi.

Dalam kaitannya dengan belajar, strategi berhubungan dengan bagaimana, kapan, dan di mana kegiatan belajar dilakukan. Sehingga strategi belajar juga bersinggungan dengan manajemen waktu. Oleh karenanya, setiap orang bisa berbeda cara menyikapinya.

Saya pribadi biasanya belajar dengan cara:
a. BAGAIMANA?
- Mengawali kegiatan belajar dengan doa belajar (Baca: Doa Belajar)
- Berdoa semoga dimudahkan dalam memahami materi, diberikan ilmu yang bermanfaat, dan dianugerahkan masa depan yang cerah
- Mematikan hp jika tidak diperlukan selama belajar
- Menyiapkan alat pendukung seperti alat tulis, kamus, kalkulator, dll.
- Mengatur durasi belajar (20 menit – 1 jam/ sesi, 1 hari: 1 – 3 sesi)
- Membuka hp atau laptop untuk mencari referensi di internet
- TIPS: Hindari musik atau kegaduhan lain ketika belajar agar konsentrasi tidak pecah 
b. KAPAN?
- Mencari waktu yang tenang: habis sholat malam, sholat shubuh, sholat dhuha, dan sholat ashar
- Mencari waktu yang kondusif: saat kos sepi, saat tidak (sedang) berkerja, saat pagi hari, saat malam hari, saat weekends (sabtu dan minggu)
- TIPS: Manfaatkan waktu senggang yang dimiliki untuk belajar. Usahakan kerja dan istirahat tidak terganggu. 
c. DI MANA?
- Mencari tempat yang mendukung: di kos, di rumah, di tempat kerja, di taman kota, di perpustakaan daerah
- Jika tidak memungkinkan untuk belajar di tempat kos karena terlalu ramai atau bising, belajarlah di tempat umum yang tenang dan tidak banyak gangguan seperti taman kota dan perpustakaan daerah
- Belajar juga bisa dilakukan di tempat kerja dengan catatan tidak menggangu pekerjaan. Siasati waktu yang tepat untuk membuka buku seperti saat istirahat dan saat kantor tidak banyak pekerjaan
- TIPS: cari tempat yang tenang dan berudara sejuk agar belajar nyaman

4. Ikuti perkuliahan secara tertib dan aktif
Tidak ada ruginya mengikuti tutorial online (tuton) maupun tutorial tatap muka (TTM). Kedua jenis tutorial ini berfungsi sebagai pengganti perkuliahan konvensional yang diselenggarakan di kampus-kampus lain, baik negeri maupun swasta. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa tuton dan TTM merekam absensi dan nilai tugas setiap mahasiswa, yang nantinya akan mempengaruhi nilai akhir UAS.  

Namun sayangnya, tidak semua mahasiswa yang terdaftar pada kuliah berjalan mau mengikutinya, utamanya tuton. Karena sebagian menganggap tuton itu tidak penting (karena hanya daring), dan sebagian lagi merasa tuton itu berat untuk diikuti (karena diskusi dan tugasnya banyak dan harus dikerjakan dan dikumpulkan dalam tengat waktu tertentu).

Padahal kalau melihat besaran kontribusinya terhadap nilai akhir UAS, persepsi ini jelas keliru sekali. Bagaimana tidak, tuton menyumbang 30% dan TTM menyubang 50% (jika UAS mencapai skor minimal 30%). Ini sungguh angka yang tak bisa diabaikan begitu saja. 

Melihat besaran kontribusi ini, maka alangkah lebih baiknya jika kita turut berpartisipasi aktif dalam tuton ataupun TTM. Langkah ini bisa berarti langkah preventif yang akan menyelamatkan kita di kemudian hari jika hasil UAS kita ternyata jauh dari harapan. Dengan adanya kontribusi dari tuton dan TTM yang kita ikuti, nilai kita secara otomatis akan terangkat. Dan imbasnya, IPK kita juga terselamatkan.

Agar tuton berjalan dengan baik dan hasilnya maksimal, berikut yang saya biasa lakukan:
a. Mengikuti Diskusi 1 – 8 di setiap mata kuliah
b. Menjawab soal-soal diskusi dengan sungguh-sungguh dan menanggapi jawaban mahasiswa lain dengan antusias
c. Mengerjakan Tugas 1, 2, dan 3 (tugas wajib) dengan teliti
d. Mengirimkan tugas diskusi dan tugas wajib tidak melawati batas waktu yang ditentukan (deadline)
e. Mencari referensi tambahan untuk diskusi dan tugas jika diperlukan
f. TIPS:
- Meskipun tampak sepele, usahakan selalu berpartisipasi dalam forum diskusi. Agar bukti kehadiran kita terekam dengan baik dalam sistem. Di samping itu, tutor cenderung lebih menyukai mahasiswa yang aktif (walaupun hasil kerjaannya kurang baik), sehingga membantu kita untuk memperoleh nilai maksimal dari tutor yang bersangkutan. 
- Apabila kita tidak bisa mengikuti sebuah diskusi pada minggu yang telah ditentukan, tetap berikan tanggapan pada minggu berikutnya. Karena sebagian tutor memberikan kelonggaran waktu bagi mahasiswa dan tetap menilai partisipasinya meski tidak menyatakannya secara langsung.
- Selain menjawab pertanyaan diskusi dan menanggapi jawaban mahasiswa lain, kita bisa membuat topik diskusi sendiri dengan menanyakan materi modul yang belum dimengerti, membahas kunci jawaban yang error pada Tes Formatif, memberikan tambahan materi yang diambil dari sumber lain, dsb.
- Tugas wajib yang dibebankan pada Minggu 3, 5, dan 7 haruslah kita kerjakan sebaik mungkin dengan memanfaatkan waktu yang diberikan (biasanya 2 minggu per tugas). Bahkan kalau perlu, cari referensi dari berbagai sumber untuk mendukung dan melengkapi jawaban kita yang sering kali hanya berdasarkan materi modul. Prioritaskan tugas ini di atas tugas diskusi dan pastikan jawaban kita dalam tugas wajib ini tidak asal-asalan karena tugas ini adalah inti dari penilaian seluruh inisiasi.

5. Persiapkan ujian dengan matang
Bagaimanapun, ujian akan menjadi penentu utama dari hasil belajar kita. Tuton dan TTM akan berkontribusi terhadap nilai hanya jika kita bisa mengerjakan soal ujian minimal 30%. Dengan kata lain, jika nilai kita dibawah 30, maka tuton dan TTM yang kita ikuti tidak akan ada artinya. Oleh karenanya, agar perjuangan kita selama 8 minggu tidak sia-sia, kita harus mempersiapkannya dengan matang.

Lalu, apa yang mesti dipersiapkan?
a. Mental
Mental adalah hal pertama yang perlu ditata sebelum menghadapi ujian. Banyak mahasiswa, termasuk saya, dibuat stres (ringan) atau terbebani secara psikis karenanya. Apalagi jika minggu pertama terdapat lebih dari tiga mata kuliah yang diujikan. Tentu perlu persiapan ekstra, mengingat hanya ada 1 minggu setelah inisiasi terakhir untuk mempersiapkannya.

Sebenarnya, ujian tidak perlu disikapi dengan terlalu serius, tapi juga tidak dengan terlalu santai. Saya biasanya menyikapi hal ini dengan berdoa 2 atau 1 minggu menjelang ujian, dengan harapan dimudahkan dalam mengerjakan soal-soal ujian dan direzekikan Indeks Prestasi (IP) yang sempurna. Andai kata kesempurnaan tersebut tidak datang, maka yang saya peroleh masih mendekatinya.

Doa ini saya maksudkan untuk membentuk feel positif bahwa Allah akan menolong saya dalam mengerjakan ujian. Sehingga saya tidak merasa sendiri. Dan di luar ini, saya biasanya menghibur diri dengan menonton film, jalan-jalan, dan semacamnya.

b. Kesehatan
Selain mental, kesehatan juga perlu dijaga dengan baik menjelang ujian. Jika kita sampai jatuh sakit di waktu ujian, maka sudah dapat dipastikan bahwa ada nilai yag kosong dan hasil ujian kita tidak akan maksimal. Dan ini artinya semua yang kita usahakan sebelumnya tidak memiliki dampak signifikan terhadap nilai yang kita harapkan. 

Untuk menjaga kesehatan praujian, dapat dilakukan beberapa hal seperti: perbanyak makan sayuran dan buah-bauhan, perbanyak minum air putih, berolah raga, tidur cukup, dan sebagainya.

c. Materi
Seperti yang saya telah singgung sebelumnya, manfaatkan 1 minggu setelah inisiasi kedelapan untuk me-review materi modul yang akan diujikan di minggu pertama. Gunakan ringkasan yang telah dibuat selama ini untuk belajar. Atau jika belum membuatnya, catatlah poin-poin (yang dianggap) penting dari modul dengan menulisnya di kertas untuk menguatkan ingatan. Buat pula bagan, tabel, atau grafik sederhana dari poin-poin tersebut. Gunanya adalah untuk membangkitkan memori karena gambar visual pada umumnya lebih mudah dipahami dan diingat daripada tulisan semata.

Cara ini bisa sangat membantu tatkala kita sedang mengerjakan soal ujian dan lupa dengan materi yang telah kita pelajari atau bimbang dengan opsi yang disediakan dalam soal. Kita bisa membangkitkan gambaran visual yang sudah direkam oleh otak kita untuk membantu mengingat kembali atas apa yang telah kita buat dan lihat sebelumnya.

Kemudian, dalam mempelajari modul, jangan lupa mempelajari Tes Formatif yang mengikuti setiap Kegiatan Belajar. Berdasarkan pengalaman pribadi pada semester-semester awal, sebagian soal dari Tes Formatif dikeluarkan dalam UAS.

TIPS:
Pelajari Tes Formatif dengan cara membaca soal dan jawaban benarnya saja. Hindari melihat opsi lain supaya otak kita hanya mengingat bagian itu. Jadi ketika bertemu dengan soal yang sama, otak kita langsung merespon ke bagian tadi.

d. Hal teknis
Persiapan yang kurang baik terhadap hal-hal yang bersifat teknis bisa mengakibatkan sesuatu yang fatal. Misalnya, saat hendak berangkat ujian, ban motor kita bocor. Akibatnya kita panik mencari alternatif lain, buru-buru dalam berangkat, dan akhirnya tiba di tempat ujian telat. Ditambah lagi, kita masih harus mencari ruangan ujian kita. Pastinya, hal semacam ini sangat menguras tenaga dan menggangu konsentrasi. Di mana tanpa terasa, fokus kita telah buyar bahkan sebelum kita mengerjakan ujian. Dan kalau sudah begini, dapat diprediski akan seperti apa hasilnya nanti.

Makanya, hal teknis juga perlu dipikirkan dengan seksama agar tidak mengganggu kelancaran ujian. Berikut ada beberapa TIPS terkait hal teknis ini:
- KTPU: cetak segera setelah tersedia di sistem. Tujuannya adalah untuk menghindari system error dan mengetahui jadwal ujian seawal mungkin, sehingga bisa merumuskan strategi untuk menghadapinya.
- Lokasi: jika memungkinkan, cek lokasi sehari sebelum UAS dilaksanakan. Jadi kita tidak perlu mencarinya saat hari H.
- Alat tulis: siapkan semua alat tulis yang dibutuhkan selama ujian sehari sebelumnya atau malam harinya. Supaya keesokan harinya, kita bisa langsung berangkat.
- Sarana pendukung: pada beberapa mata kuliah diterapkan kebijakan tertentu seperti open book, dictionary allowed, calculator allowed, dsb. Oleh sebab itu, ketahui kebijakan tiap mata kuliah dan persiapkan sarananya. 
- Pakaian: siapkan pakaian yang akan dikenakan saat ujian sehari sebelumnya. Tujuannya agar kita tidak terganggu dengan aktivitas tambahan seperti menyetrika. 
- Kendaraan: cek kondisi kendaraan mulai dari roda, rem, lampu, spion, dll. Pastikan semuanya normal dan siap pakai.

6. Berdoa untuk hasil yang diharapkan
Setelah semuanya dilakukan, yang kita bisa lakukan selanjutnya adalah memasrahkan segela sesuatunya kepada Sang Pencipta sembari berdoa agar diberikan hasil terbaik yang memuaskan. Karena pada dasarnya, kita sebagai hamba hanya bisa berupaya dan hasilnya tergantung kepada Yang Mahakuasa.

Menyinggung masalah berdoa ini, ada baiknya jika kita memperhatikan waktu yang baik untuk berdoa agar doa kita dikabulkan. Waktu mustajab di antaranya yaitu: pada waktu sujud dalam sholat, selepas sholat fardhu, antara adzan dan iqomah, saat sepertiga malam terakhir, dan saat berbuka puasa.

Baca: Waktu-waktu yang Mustajab

Alhamdulillah dengan melakukan hal-hal di atas, Allah mengijinkan saya untuk mendapatkan IPK yang memuaskan. Darinya, saya memiliki momen yang tak akan pernah terlupakan di UT seperti:
a. Semester 2 dan 3: Mendapatkan Beasiswa PPA selama dua semester berturut-turut
b. Semester 4: Menjadi guest speaker pada OSMB UPBJJ-UT Semarang 2016.1 untuk memberikan testimoni dan memaparkan tips-tips untuk mendapatkan IPK bagus selama di UT (Semarang, Februari 2016)
Baca: Tips Mendapatkan IP Cum Laude Setiap Semester di Universitas Terbuka
c. Semester 5: Menjadi Juara 1 Diskusi Ilmiah pada Disporseni UT Wilayah Tengah (Surakarta, Juli 2016)
Baca: Juara 1 Diskusi Ilmiah dalam Disporseni UT 2016 di Surakarta
d. Semester 5: Mewakili fakultas FISIP untuk menerima Beasiswa IKA-UT dalam acara Seminar dan UPI UPBJJ-UT (UNDIP, Februari 2017)


Monday, November 28, 2016

Srinagar was under the spell of a winter (translation)


Srinagar was under the spell of a winter

Early in 19-, when Srinagar was under the spell of a winter so fierce it could crack men’s bones as if they were glass, a young man upon whose cold-pinked skin there lay, like a frost, the unmistakable sheen of wealth was to be seen entering the most wretched and disreputable part of the city, where the houses of wood and corrugated iron seemed perpetually on the verge of losing their balance, and asking in low, grave tones where he might go to engage the services of a dependably professional thief. The young man’s name was Atta, and the rogues in that part of town directed him gleefully into even-darker and less public alleys, until in a yard wet with the blood of a slaughtered chicken he was set upon by two men whose faces he never saw, robbed of the substantial bank-roll which he had insanely brought on his solitary excursion, and beaten within an inch of his life.

Pada awal tahun 19-, ketika kota Srinagar dicengkeram musim dingin hebat yang mampu menggemeretakkan tulang manusia andai terbuat dari kaca, seorang lelaki berkulit merah muda pucat seperti es, yang kelihatan jelas dari orang berada, terlihat memasuki bagian kota yang paling menyedihkan dan memprihatinkan, di mana rumah-rumah dari kayu dan seng senantiasa tampak hampir tak karuan. Kemudian, dengan suara pelan dia bertanya dengan jelas, di mana ia bisa menyewa seorang bajingan profesional yang bisa diandalkan. Nama laki-laki muda itu adalah Atta. Lalu, bandit-bandit di tempat itu mengajaknya dengan gembira menyusuri lorong-lorong sepi nan gelap. Sampai di suatu pekarangan yang basah oleh darah penyembelihan ayam, dia dihajar oleh dua orang yang wajahnya tidak pernah ia lihat, dirampok uangnya yang berjumlah besar yang ia bawa serta dengan nekat dalam perjalanan seorang diri tersebut, dan dipukuli hingga ajal nyaris menghampiri.



Petikan novel ini ("East, West" karya Salman Rushdie) diterjemahkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyuntingan Teks Terjemahan, jurusan Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan, Universitas Terbuka.

Thursday, September 15, 2016

Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung


PEREMPUAN BEKERJA, DILEMA TAK BERUJUNG
Oleh: Swara Rahima
Kementrian Pemberdayaan Perempuan


Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi.
Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu.
Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, di mana pun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja.
Anggapan ini bisa jadi juga terkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka.
Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup, saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”.
Terlepas dari pembahasan di atas, perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini. Bagaimanapun, tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider), yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda, akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis. 
Kerja produktif dan reproduktif
Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi, keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan, papan. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”, bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan, hamil, melahirkan, menyusui, namun mencakup pula pengasuhan, perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental, kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi, misalnya pekerjaan rumah tangga. Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan, kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. Sehingga dengan makanan dan kenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu.Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja.
Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini, seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas, terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi, di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki, biasanya dikerjakan di luar rumah. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah.
Seperti yang pernah diungkapkan, nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan, seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga, pada kenyataannya, bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting, melainkan laki-laki.
Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. Atas nama tradisi dan kodrat, perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. Institusi pendidikan, agama, media massa, mendukung pula pandangan ini. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga.
Sayangnya, keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi. Dengan kata lain, tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. Jika kerja tersebut diperhitungkan, niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”.
Sebenarnya di banyak tempat, terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan, meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”.
Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan laki-laki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. Jam kerja panjang, ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja, dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya, adalah beberapa contoh nyata. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas, masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang.
Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga, baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja.
Ternyata, kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. Perlu perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah, hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga, termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga.
Seperti yang juga sudah disinggung di atas, berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah, pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. Di pedesaan, perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian, sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. Di luar konteks desa-kota, sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49,2%, diikuti oleh sektor perdagangan 20,6%, dan sektor industri manufaktur 14,2%. 
Diskriminasi kerja perempuan
Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan, keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. Perempuan di sektor pertanian pedesaan, mayoritas berada di tingkat buruh tani. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil, garmen, sepatu dan elektronik. Di sektor perdagangan, pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional, usaha warung, adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan.
Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah, kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah. Untuk kasus kota, sebagai buruh pabrik, sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. Dari kalangan pengusaha sendiri, terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki.
Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang, menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi. Sementara bila mempekerjakan perempuan, biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 5-8% dari total biaya produksi (Tjandraningsih, 1991:18). Dalam kasus tersebut, persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau, buruh perempuan mendapat upah Rp 1.650,00 per hari sementara buruh laki-laki mendapat upah Rp 1.850,00 per hari (Indraswari, 1994:52). Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Dua hal ini dapat dilihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan.
Jika perempuan pada strata menengah ke bawah, bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas, bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah.
Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri, diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki, di sektor swasta diskriminasi masih terjadi. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama, namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang- tetap dianggap lajang. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuan- tidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan- total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama.
Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit, seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran. Ideologi gender adalah segala aturan, nilai, stereotip, yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman, 1999: 9). Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik, maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami.
Persoalannya, generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya. Bagi perempuan miskin, dalam situasi krisis ekonomi, banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga, atau bahkan lebih. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja.
Selain persoalan upah, dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki, perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat, posisi, jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia, namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen. Demikian pula dapat dihitung dengan jari, jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural, bupati, walikota, menteri, dll.
Dari gambaran persoalan diatas, dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja, termasuk akses terhadap program-program pelatihan untuk pengembangan karir. 
Dalam Islam tidak ada masalah
Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia, maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. Jika merujuk kepada hadits Nabi, dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk kepentingan sosial, maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebutlah misalnya, Asma bint Abu Bakr, isteri sahabat Zubair bin Awwam, bekerja bercocok tanam, yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim, juz II, halaman 1211, nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma, dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw, yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu, selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”.
Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja, selama ada jaminan keamanan dan keselamatan, karena bekerja adalah hak setiap orang. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih, dalam pandangan banyak ulama fikih, suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573). Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali, seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca: perempuan karir) yang setelah perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah, suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat: al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795). Fikih membenarkan suami dan isteri, keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah.
Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan laki-laki. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. Bahkan dalam fikih, perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya, kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang, akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. Akhirnya, berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan, tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja.


Sumber bacaan:
- Dedi Haryadi, Indrasari Tjandraningsih, Indraswari, dan Juni Thamrin, Tinjauan Kebijakan Pengupahan Buruh di Indonesia, AKATIGA, April 1994. 
- Indraswari dan Juni Thamrin, Potret Kerja Buruh Perempuan; Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember, AKATIGA, Juni 1994.
- Ratna Saptari, Perempuan Bekerja dan Perubahan Sosial, Kalyanamitra, 1995. 
- Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795. 
- Shahih Muslim, juz II, halaman 1211, nomor hadits 1483. 
- Fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205. 
- Al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573.


Tulisan ini saya peroleh saat mengikuti mata kuliah "Bahasa Indonesia Merangkum", jurusan Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan, Universitas Terbuka.


Monday, June 13, 2016

Neraca Perdagangan Masih Defisit US$ 327,4 Juta (translation)


Neraca Perdagangan Masih Defisit US$ 327,4 Juta
Trade balance still suffers a USD 327.4 million deficit 
Kinerja perdagangan Indonesia pada kuartal pertama belum memperlihatkan pemulihan secara signifikan. Badan Pusat Statistik mencatat, pada Februari 2013, neraca perdagangan Indonesia masih defisit US$ 327,4 juta. "Secara kumulatif, Januari-Februari 2013 defisit US$ 402,1 juta. Defisit disebabkan impor migas yang cukup tinggi," kata Kepala BPS, Suryamin, dalam konferensi pers di kantor BPS, Senin, 1 April 2013.
Indonesia’s trade performance in the first quarter has yet to show a significant recovery.  Central Statistics Agency (BPS) data revealed in February 2013 that Indonesia’s balance of trade still suffered a deficit of USD 327.4 million. “Cumulatively, the deficit from January to February 2013 reached  USD 402.1 million. It was caused by the steep rise of oil and natural gas imports,” BPS head, Suryamin spoke at a press conference in the BPS office on Monday, April 1, 2013.
Data BPS menyebutkan, total ekspor migas pada Februari 2013 sebesar US$ 2,539 miliar, sedangkan impornya mencapai US$ 3,645 miliar. Dengan demikian, selisih defisitnya US$ 1,105 miliar. Lebih terperinci, total ekspor minyak mentah pada Februari 2013 hanya US$ 814 juta, sedangkan impornya US$ 826 juta. (http://www.tempo.co)
The BPS data recorded that the total of oil and natural gas exports in February 2013 amounted to USD 2,539 billion, while the import stood at USD 3,645 billion. Thus, there was a USD 1,105 billion deficit. In more detail, the total crude oil exports in February 2013 grasped only USD 814 million, while the imports laid at USD 826 million. 



Terjemahan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Translation 2, jurusan Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan, Universitas Terbuka.

Baca juga: